Kamis, 05 Januari 2017

Ujian Praktik Tertulis

                                                   Takut
               
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar.

“Didiiinnn !” Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. 

Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. Waktu sepertinya dibiarkan berlalu oleh Didin anak laki-laki yang belum genap empat belas tahun usianya. Nafasnya ia tarik pelan agar tidak menimbulkan suara. Begitu pula saat ia melepaskannya. Ia berharap saat ini suara dari kamar tidak memanggil lagi namanya. Laki-laki itu sebentar matanya menatap jam dinding usang yang menggantung didinding kayu ruang tamu. Jarumnya mulai melambat geraknya karena usia baterainya. Kemudian Ia merebahkan kepalanya dikursi ruang tamu setelah menit berlalu dengan pelan. Badannya yang kurus semakin tidak dapat menyembunyikan rasa lelahnya. Tetapi matanya yang sayu tetap tidak dapat ia pejamkan. Menatapi rangka atap dari bambu yang entah berapa tahun usianya. Yang jelas sejak ia kecil sampai usianya sekarang belum pernah direhapnya. Satu dua terlihat mulai rapuh. Begitu juga lobang didinding ruang dari kayu semakin banyak jumlahnya. Angin yang dingin bertiup mulai menerobos melaluinya.

“ Jam berapa sekarang ? “ ia bertanya sendiri dalam hatinya.

Suara adzan Isyak terdengar sudah berjam-jam lalu. Ia merasa menyesal tidak mencocokan jam dindingnya sore tadi. Walau ia tahu itu tidak ada gunanya karena baterainya seharusnya diganti. Detik waktu terasa lama menggulung malam agar segera pagi sangat ia rasakan.

“ Din.” laki-laki itu beranjak dari kursinya menghampiri suara yang terdengar dari kamar.

“ Tolong ambilkan air dalam termos, aku haus.“ setelah anak laki-laki itu berdiri dihadapannya.

Anak laki-laki itu bergegas menuangkan air termos kedalam gelas dan memberikannya. 
“ Kau tidak tidur Din ?”

“ Tidur, sore tadi. “

“ Maafkan mbak Tutik merepotkan kamu, tidurlah badan mbak sudah agak mendingan. “

 Anak laki-laki itu menatap wajah perempuan yang telentang  tidur didepannya. Mata Didin menatapi gerak dada kurus kakaknya masih terlihat turun naik walau terlihat tersengal. Tetapi itu sudah membuat agak lega perasaannya. Kemudian ia beringsut duduk diatas kursi kayu yang ada dipinggir tempat tidur.

“ Mbak Tutik tidak menghabiskan buburnya ?” Didin menyeletuk setelah matanya melihat piring kecil yang terisi bubur setengahnya.

“ Tidak Din, aku sudah memakannya tadi sebelum minum obat.” Matanya yang sama sayunya dengan Didin itu mencoba meyakinkannya dan berharap dapat menghilangkan rasa khawatir dihati adiknya.

Didin diam mencoba mengerti apa yang dikatakan kakaknya. Memang orang yang sedang sakit biasanya hilang nafsu makannya. Didin ingat sudah tiga hari ini tubuh yang kurus itu lunglai ditempat tidurnya. Itu sejak Didin mengantarkannya berobat di Puskesmas. Tutik selalu menjawab hanya masuk angin biasa saat Didin tanya penyakitnya.  

“ Din tidurlah istirahat, besuk kamu harus sekolah. “

“ Tidak Mbak, besok hari Minggu. Aku libur sekolah.“ Perempuan itu mencoba menyembunyikan perasaannya. Mendengar jawaban Didin.

“ Din apakah kamu tidak mencoba minta tolong lagi pada mas Nor untuk menghubungi pakde Pardi memberitahu bahwa saya sakit. “

Mulut Didin terdiam beku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kakaknya. Ini sudah yang keempat kalinya kakaknya memintanya. Matanya tampak berkaca-kaca walau ia berusaha menyembunyikannya. Ia mulai teringat kedua orang tuanya yang sudah lama tiada. Hanya pakde Pardi satu-satunya saudara. Ibunya adalah anak tunggal dari embahnya. Sedang Bapaknya hanya punya kakak satu Supardi namanya.

“ Mbak Lampung cukup jauh dari sini. “ Didin mencoba memberi pertimbangan dan alasan.

“ Iya, tapi dulu pakde berpesan sebelum berangkat, jika kamu atau saya sakit disuruh mengabarinya.”

“ Mbak Tutik kan hanya sakit masuk angin biasa, kasihan pakde.

Beberapa saat keduanya terdiam hanya saling menatap. Rasa takut semakin menumbuhi hatinya. Didin semakin tidak dapat membendung pikirannya. Didin mulai takut kakaknya menyembunyikan penyakitnya darinya. Tutik sangat takut Didin yang terlihat masih kecil dimatanya.

“ Mbak, biarkan aku yang merawat selama mbak Tutik sakit.”  

“ Din kamu anak yang baik, maafkan embak yang sering membentak-bentak kamu.”

Didin terdiam mendengar kata-kata dari kakaknya. Ia sangat tahu tahu betapa kakaknya sangat menyayanginya. Tutik pun membiarkan lengang waktu terus berlalu sambil menggenggam telapak tangan adiknya. Adik yang sangat menyayanginya. Pelan waktu terus berlalu. Jam berapa ini sekarang tidak pasti bagi keduanya. Yang terasa kesunyian terlihat semakin pekat baginya. Tidak terasa kepala Didin sudah rebah disudut tempat tidur walau tubuhnya masih melekat pada kursi yang didudukinya. Tutikpun melupakan rasa sakit diperutnya. Ia memejamkan matanya dengan terus menggenggam jemari tangan adiknya. Waktu terus berayun berjalan pelan meniti menuju pagi.

Sinar Matahari lembut menerobos disela-sela lubang kayu. Hangatnya mulai mengisi ruang yang ada. Tiba-tiba derik pintu ruang tamu terdengar karena dibuka. Didin rupanya lupa menguncinya tadi malam. Seorang laki-laki yang sudah cukup berumur usianya berdiri menatapi dua anak yang pulas lelah.

“ Tut,…Tut.. “ ucap laki-laki itu sambil menggoyang-goyangkan kaki Tutik mengusiknya.

Tutik mencoba membuka matanya pelan. Tangannya yang masih menggemgam jemari Didin pelan dia lepaskan.

Pakde, maaf saya tidak tahu.”

“ Tut, Pakde sudah tahu dari Nor tentang penyakitmu, radang usus buntumu sudah sangat menghawatirkan makanya pakde langsung berangkat kesini.”

“ Tapi Pakde ?”

“ Tidak apa-apa, Nor sudah cerita banyak. Kau siap-siap saja, sebentar lagi Nor membawa mobilnya kemari. Kau harus dioperasi biar tidak menimbulkan masalah.“

“ Tapi Didin Pakde? “

“ Biarkan dia tidur istirahat. Lihatlah Ia terlihat sangat kelelahan. Nanti kalau bangun biar Nor yang mengatarkan ke rumah sakit.“


Mobil mulai melaju dijalan aspal. Tutik terkadang harus menahan rasa sakit saat mobil berjingkat saat melewati jalan yang tidak rata. Tapi rasa takut dan khawatir akan adiknya sudah sirna. Jika hal yang terburuk terjadi pada dirinya. Sepanjang perjalanan dia berdoa semoga Tuhan masih memberinya waktu untuk mengasuh adik satu-satunya yang sangat ia sayangi.                                                                                                                                                                                  

Jumat, 30 Desember 2016

Tugas Ujian Praktik Bahasa Indonesia

Nama         : Muthia Rismawati
Kelas         : XII IPS 3
No. Absen : 18

Tema pidato mengenai persiapan Indonesia menghadapi MEA (Masayarakat Ekonomi Asean)

Minggu, 04 Desember 2016

Teks Iklan

A.    Pengertian Iklan.
Iklan adalah berita yang dimaksudkan untuk mendorong masyarakat agar memenuhi permintaan di dalam iklan. Iklan dipasang di media massa seperti surat kabar dan majalah, di media elektronik seperti televise, radio, dan internet, atau di tempat umum.
B.     Struktur Teks Iklan.
Teks iklan memiliki struktur yang jelas, yakni orientasi, tubuh iklan, dan justifikasi. Struktur tersebut membangun keseluruhan iklan dengan baik.
C.    Fungsi Iklan.
1)      Menginformasikan iklan membuat konsumen sadar akan adanya produk baru.
2)      Membujuk.
3)      Mengingatkan.
4)      Memberikan nilai tambah kepada produk.
5)      Mendukung usaha promosi.
D.    Media Iklan.
1)      Internet.
2)      Radio.
3)      Televisi
4)      Koran.
5)      Pemasaran langsung.
6)      Majalah.
7)      Banner.
8)      Telephone.
E.     Jenis-jenis Iklan.
1.         Berdasarkan Sifatnya.
a)         Iklan niaga : untuk mempengaruhi masyarakat agar tertarik untuk membeli suatu produk.
b)         Iklan non niaga : untuk mempengaruhi masyarakat agar mempunyai rasa simpati. Contohnya : iklan layanan masyarakat.
2.         Berdasarkan Tujuannya.
a)         Iklan permintaan : agar mau bekerja sama dengan pihak yang mengiklankan.
b)         Iklan penawaran : ditunjukkan untuk menawarkan suatu produk kepada masyarakat.
c)         Iklan pengumuman : untuk memberikan pengetahuan.
3.         Bedasarkan ruangnya.
a)         Iklan baris : dalam sebuah kolom khusus tertentu.

Dibawah ini merupakan salah satu contoh iklan layanan masyarakat beserta struktur dan maknanya.


Struktur Teks
Teks
Orientasi
-
Tubuh Iklan
-
Justifikasi
Marilah hijau ini kita rawat bersama

Maknanya :

a)  Kata “Marilah hijau ini kita rawat bersama” merupakan ajakan kepada masyarakat untuk selalu menjaga lingkungan sekitarnya atau alam sekitarnya contohnya dengan cara tidak menebang pohon atau penggundulan hutan.

Senin, 31 Oktober 2016

Jalan Santai HUT Smada
           
        Smada menggelar jalan santai bersama dalam rangka memperingati HUT Smada yang ke 37. Acara ini diikuti oleh warga Smada dan warga di sekitar Smada, Minggu (16/10/2016).
         
       Acara tersebut dimulai sekitar pukul 07.05 WIB dan diawali dengan upacara pembukaan, Bapak Arief Fauzan, Kepala Sekolah SMAN 2 Magelang. Dalam upacara pembukaan, dilakukan penerbangan balon sebagai tanda dimulainya jalan santai.

     Rute jalan yang dilalui adalah Kampung Sanggrahan, RSU, Kodim, Jl. A. Yani, kemudian Samban. Di tengah perjalanan dibagikan kupon/nomor undian jalan santai yang nantinya akan diundi. Banyak siswa Smada dan warga sekitar yang berpatisipasi meramikan acara tersebut. Acara ini juga dikawal bapak polisi.
        
      Sesampainya di Smada acara pengundian hadiah berlangsung sangat meriah. Hadiah-hadiah yang diberikanpun sangat menarik seperti, sepeda, Magic Kom, kupon makan, dan masih banyak lagi. Ada juga stand-stand makanan yang disuguhkan yaitu Mie Cool, sosis, Pop Mie, Walls dan lain-lain, berderet menghadap ke panggung. Diramaikan juga dengan penampilan-penampilan band kelas.Diadakan juga lomba tumpengan yang diikuti oleh 3 perwakilan setiap kelas.
      Sebelum pulang, diadakan makan tumpengan bersama di setiap kelas. “Acara ulang tahun Smada kali ini lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Luke Kurnia siswa kelas XII IPS 3. Siswa sudah diperbolehkan pulang pada pukul 11.35 WIB.
Pahlawan Keluarga

            Partoyo lahir di Magelang pada tanggal 2 September 1961. Ia terlahir di keluarga yang begitu sederhana. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Orang tuanya bernama Darmo Miharjo dan Suminen yang bekerja sebagai tukang kayu dan penjual gorengan. Sejak kecil beliau tinggal di Karang Kidul. Kemudian menginjak usia 12 tahun ia pindah ke Ngentak Kwayuhan.
            Ia bersekolah di SD Muhammadiah 1. Berangkat dan pulang sekolah ia berjalan kaki walaupun dulu masih jarang sekali yang mengenakan alas kaki. Usia pada masa itu, beliau selalu membantu kedua orang tuanya bekerja dan mengurusi adik-adiknya. Beliau selalu bersemangat bersekolah buktinya pada saat kelulusan SD, beliau bisa membuat harum nama sekolahnya karena beliau terdaftar sebagai siswa SMPN 1 Magelang.
            Seperti biasa beliau selalu belajar dengan sungguh-sungguh karena ingin sekali membanggakan kedua orang tuanya dan keluarganya. Teman-temannya yang berkecukupan dapat membeli buku untuk belajar. Walaupun beliau tidak sanggup untuk membeli buku, beliau mempunyai akal agar tetap bisa belajar dan berdaing dengan teman-temannya. Menginjak kelas 3 SMP beliau semakin serius untuk belajar dan akhirnya beliau bisa terdaftar masuk di SMAN 1 Magelang.
            Di masa SMA, beliau tetap belajar walaupun kedua orang tuanya mati-matian mencari nafkah untuk membiayai adik-adiknya bersekolah dan juga dirinya. Di kampung beliau juga berperan aktif sebagai anggota Karang Taruna. Kakaknya yang pertama sudah lulus sekolah dan sudah bekerja. Saat itu, beliau ingin sekali kuliah tapi tidak bisa terwujud.


            Akhirnya beliau mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Beliau dan kakaknya bisa membantu meringankan beban kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Setelah lama bekerja beliau terpikat pada seorang gadis yang bernama Dilah Mawarti yang pada sat itu merupakan tetangganya. Akhirnya, beliau menikah pada tahun 1991. Pada tahun 1994 mereka di karuniai anak laki-laki bernama Riswandha Prasdiatmaja yang insyallah lulus kuliah dari Universita Diponegoro pada tahun 2016. Pada tahun 1999 mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Muthia Rismawati yang insyallah akan lulus sekolah dari SMAN 2 Magelang tahun 2017.